BAB XII
& XIII
MANUSIA DAN
KEGELISAHAN
A.
KEGELISAHAN
1.Pengertian
Kegelisahan
Kegelisahan berasal
dari kata gelisah. Dalam kamus umum bahasa Indonesia, WJS
Poerwadarminto, gelisah artinya tidak tentram hatinya,selalu merasa khawatir;
tidak dapat tenang dalam hidupnya; cemas. Jadi, kegelisahan adalah
gejala universal, ada pada manusia dimana saja.
Kegelisahan timbul karena perbuatan
manusia sendiri atau karena keadaan dari luar lingkungan manusia sendiri, yang
memberi pengaruh psikologis, yang dapat merugikan dirinya maupun orang
lain.
Manusia suatu saat dalam hidupnya
akan mengalami kegelisahan. Tragedy dunia modern tidak sedikit dapat
menyebabkan kegelisahan. Hal ini mungkin akibat kebutuhan hidup yang meningkat,
rasa individualistis dan egoisme, persaingan dalam hidup, keadaan yang tidak
stabil dan seterusnya kegelisahan dalam konteks budaya dapatkah dikatakan
sebagai akibat adanya instik manusia untuk berbudaya, yaitu sebagai upaya
mencari kesempurnaan.
Alasan mendasar mengapa manusia
gelisah ialah karena manusia memiliki hati dan perasaan. Bentuk kegelisahannya
berupa:
a.
Keterasingan
b.
Kesepian,
dan
c.
Ketidakpastian
Perasaan seseorang yang sedang
gelisah ialah hatinyatidak tentram, merasa khawatir,cemas, takut, dsb..
Untuk mengatasi kegeisahan ini,
manusia diperintahkan untuk meningkatkan iman, taqwa dan amal shaleh. Seperti
Firman Allah SWT :
“Sesungguhnya
manusia diciptakan bersifat keluh kesah, lagi kikir; apabila ia ditimpa
kesusahan ia berkeluh kesah, tetapi bila mendapat kebaikan ia amat kikir,
kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan
shalatnya dan orang-oran yang dalamhartanya tersedia bagian tertentu, bagi
orang (miskin) yang meminta dan orang (miskin) yang tidak bisa meminta,
......... (QS. Al-Ma’arij, 70: 18-27).
Perasaan cemas menurut Sigmund Freud
ada tiga macam, yaitu:
1. Kecemasan
kenyataan (obyektif)
Contohnya:
Anaknya yang belum pulang, orang tua yang sedang sakit, dsb.
2. Kecemasan
neurotic (saraf)
Kecemasan ini timbul karena
pengamtan tentang bahaya dari naluriah. Menurut S. Freud kecemasan ini dibagi
dalam tiga macam, yaitu:
a.
Kecemsan
yang timbul karena penyesuaian diri dengan lingkungan. Kecemasan timbul karena
orang itu takut akan bayangannya sendiri sehingga menekan dan menguasai ego.
b.
Rasa takut
irrasional atau phobia. Rasa takut ini sudah menular, sehingga kadang-kadang
tanpa alas an dan hanya karena pandangan saja. Yang kemudian dilanjutkan dengan
khayalan yang kuat dapat menimbulkan rasa takut.
Contoh :
Orang takut
ular, takut binatang berbulu, dsb.
c.
Rasa takut
lain ialah rasa gugup, gagap dan sebagainya.
Contoh :
-
Seorang yang
tak bisa bernyanyi atau bicara didepan umum, maka ia gelisah dan hilang
keseimbangan.
-
Penyesuaian
diri dengan lingkungan
3. Kecemasan
moral
Hal ini muncul dari emosi diri
sendiri seperti perasaan iri dan sebagainya.
Contoh :
Datuk meringgi iri melihat kemajuan
usaha bagindo sulaiman. Hatinya selalu gelisah, takut usahanya akan mati, kalah
bersaing. Karena itu ia selalu menyuruh orang agar membakar took Bagindo
sulaiman.
1.
Sebab-sebab Orang Gelisah
Sebab-sebab orang gelisah adalah
karena pada hakikatnya orang takut akan kehilangan hak-haknya.
Kata ishak, “Hak artinya perintah atau segala ajaran yang dibawa oleh Nabi dan
Al-Qur’an”.
Kalau hak bersifat abstrak, maka hak
dalam Al-Qur’an diberi bobot khusus, karena salah satu nama Allah SWT adalah
Al-Haq.
Seperti dalamAl-Qur’an :
“Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah. Tuhan
penguasa yang Haq (QS.Al-Ana’am : 62).
Dan Firman-Nya:
“Sekiranya al-Haq mengikuti hawa nafsu mereka niscaya
langit dan bumi jadi rusak”
Banyak orang
berfikir bahwa kegelisahaan, merupakan keadaaan yang tidak “diinginkan”. Tetapi
para ahli jiwa berfikir bahwa kegelisahan merupakan kondisi hidup manusia, atau
sebagai “kawan akrab” yang memberi stimulus kepada tingkah laku manusia.
Kegelisahan yang terhindarkan disebabkan oleh kompleksitas manusia, lingkungan
dimana ia tinggal, dan keterbatasan fisik dan jiwanya.
Kegelisahan dan kompleksitas manusia
Motif-motif perbuatan yang mendorong
dan mengarahkan tingkah laku tidak timbul dan dapat mencapai pemuasan dengan
cara yang sederhana. Sebaliknya motif-motif itu terjadi dalam keadaan ruwet,
bahkan kadang-kadang penuh kekacauan. Motif yang berbeda-beda bersaing satu sama
lain, dan pemuasan terhadap motif pertama akan disusul dengan datangnya motif
yang lain. Bertumpuknya pola-pola motif kehidupan manusia mengajarkan kepada
manusia bahwa tidak semua motif dapat dipuaskan, tetapi ada juga yang
memerlukan kesabaran untuk menundanya, dan bahkan bila perlu motif itu
ditinggalkan. Bila tidak akan menghasilkan kegelisahan.
Kegelisahan
dan Kondisi Lingkungan
Pemuasan yang menyeluruh pada saat
motif juga hamper tidak mungkin sebab tujuan motif itu hanya biasa di capai
menyeluruh jika sesuai dengan apa yang tersedia dilingkungan kita. Pada
lingkungan tertentu makanan mungkin tak tersedia untuk memuaskan rasa lapar,
karena orang itu tidak mampu membelinya, atau kawan-kawan orang itu tidak
memperhatikannya atau mengaguminya yang dapat digunakan untuk memuaskan
keinginan akan status, keakraban, cinta dan sebagainya.
Hal di atas itu mengajarkan kepada
kita bahwa beberapa motif lebih penting dari lainnya karena cukup sulit untuk
dicapai atau motif itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Dalam kehidupan
kita perkara makan dan minum bukanlah perkara yang sulit, karena makanan dan
minuman cukup tersedia pada kita walau ala kadarnya.
2. Usaha-usaha Mengatasi Kegelisahan
Usaha-usaha
mengatasi kegelisahan pertama-tama harus mulai dari diri sendiri, yaitu harus
bersifat tenang, sabar dan iman kepada Allah.
Firman Allah :
“Dan
sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan berita gembira
kepada orang-orang yang sabar.(QS. Al-Baqarah. 2:155)”.
Didalam
Al-Qur’an Alah SWT memberi petunjuk-petunjuk do’a yang baik untuk dibaca guna
memohonkesabaran. Do’a memohon kesabaran hati serta keteguhan pendirian dan
pertolongan Allah SWT dalam menghadapi cobaan dan orang kafir.
Firman Allah SWT:
“Ya Tuhan
kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan kokohkanlah pendirian kami,dan
tolonglah kami dari orang-orang kafir” (QS. Al-Baqarah, 2:250).
“Ya Tuhan
kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan
berserah diri kepada-Mu”. (QS. Al-A’raf, 7:126)
B.
KETERASINGAN
1.
Pengertian Keterasingan
Keterangan berasal dari kata
“terasing” dan kata itu dari kata dasar “asing” berarti “sendirian, tidak
dikenal orang”. Terasing berarti “disisishkan dari pergaulan”.
Jadi, keterasingan berate hal-hal
yang berkenaan dengan tersisihkannya seseorang dari pergaulan, terpencil atau
terpisah dari orang lain.
Terasing
atau keterasingan adalah merupakan bagian hidup manusia terhadap kaum mukmin
yang sedang berada ditemat pengasingan, jauh dari tanah airnya, yang belum
pernah ia lihat sebelumnya, Allah SWT memberikan kesejukan hatinya dengan
menunjukkan kiblat shalatnya.
Seperti Firman-Nya:
“Dan
kepunyaan Allah-Lah timur dan barat maka kemanapun kamu menghadap disitulah
wajah Allah (kekuasaan Allah meliputi seluruh alam). Sesungguhnya Allah Maha
Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS. Al-Baqarah, 2:115)
Hamparan
bumi yang luas adalah tempat bagi orang-orang mukmin untuk menyembah kepada
Allah SWT. Karena dialah zat yang berhak disembah disetiap tempat berbagai
penjuru dunia.
2. Sebab-sebab Keterasingan
Orang hidup
dalam keterasingan, pertama sifat-sifat atau sikap yang tidak dapat diterima
dan kedua karena perbuatannya. Jadi keduanya juga karena perbuatan hanya
berbeda sifatnya.
Bila kita simpulkan, kedua sebab
hidup keterasingan itu bersumber pada:
1. Perbuatan
yang tidak dapat diterima oleh masyarakat. Perbuatan itu antara lain: mencuri,
bersikap angkuh, sombong atau kaku.
2. Sikap rendah
diri
Sikap yang
sejenis dengan angkuh atau sombong ialah sikap kaku, pemarah dan suka
berkelahi. Sikap seperti ini, sebab takut terjadi konflik batin ataupun konflik
fisik karena hal merupakan perbuatan anak kecil.
Sikap ini
juga disebut sikap minder. Bukan orang lain yang memandang dirinya rendah,
tetapi justru dirinya sendiri. Sikap rendah diri itu ada sebab-sebabnya,
mungkin cacat fisik, karena sosial ekonominya, rendah pendidikannya dank arena
perbuatannya.
a.
Keterasingan
karena cacat fisik
Cacat
fisik itu tidak perlu membuat hidup terasing karena cacat fisik itu kehendak
Tuhan. Namun manusia, lain jalan pikirannya, merasa malu anaknya atau cucunya
yang cacat fisik, maka disingkirkan anak tersebut dari pergaulan ramai, hidup
dalam keterasingan.
Seperti
halnya dalam film “Detik-detik menyentuh kasih” seorang kakek malu melihat
cucunya lahir dalam keadaan cacat kakinya, ia berusaha membunuh bayi itu dengan
cara perlahan-lahan. Tetapi ibunya yang mengandung 9 bulan dengan penuh kasih
saying, dengan diam-diam membawa lari anaknya ke sebuah desa jauh dari jauh
dari pergaulan ramai.
Anaknya
di didik diajar membaca, menulis, berhitung dan ternyata anak tersebut
mempunyai daya tangkap yang luar biasa. Dengan kaki buatan, ia dapat
bersekolah, bahkan sampai ke perguruan tinggi, dan akhirnya anak yang telah
dewasa itu berhasil menjadi penulis yang baik.
b.
Keterasingan
karena social ekonomi
Ekonomi kuat
atau lemah adalah anugrahtuhan. Orang tidak boleh membanggakan kekayaan, tetapi
orang tidak boleh merasa rendah diri karena keadaan ekonomi yang sangat rendah.
Namun didalam kenyataan lain keadaanya. Orang-orang yang lemah ekonominya
sering kali merasa rendah diri, akibat orang-orang yang kaya sering
membanggakan kekayaanya, meskipun tidak disengaja.
Seperti halnya dalam roman “Dian
yang tidak kunjun padam karya st.Alisyahbana”, setelah cintanya kepada Molek
ditolak oleh orang tua Molek R. Mahmud dan Cik Siti: Yasin mengasingkan diri
dari pergaulan. R. Mahmud beranggapan bahwa selain rendah martabatnya juga
miskin. Oleh karena merasa diri hanya sebagi penjual nanas, Yasin kecewa, ddan
menyembunyikan diri sebagai pertapa. Ia muncul pada waktu Molek meninggal
dunia. Yasin bekerja dengan giat, mengangkut air, dan menyediakan barang yang
diperlukan untuk pemakaman Molek. Molek meninggal akibat putus asa, kecewa atas
perbuatan suaminya, Sayid Mustafa keturunan Arab pilihan orang tuanya,
c.
Keterasingan
karena rendah pendidikan
Dalam
pergaulan orang-orang yang berpendidikan rendah dan kurang pengalaman biasanya
menyendiri, mengasingkan diri karena serba sulit menempatkan diri.
d.
keterasingan
karena perbuatannya
Orang terpaksa
hidup dalam keterasingan karena merasa malu, dunia rasanya sempit, bila nampak
orang ingin mukanya ditutupi. Itu semua adalah akibat dari perbuaannya yang
tidak bias diterima oleh masyarakat lingkungannya.
3. Usaha-Usaha untuk Mengatasi Keterasingan
Keterasingan
biasanya terjadi karena sikap sombong, angkuh, pemarah, kaku, tetapi juga
karena rendah diri, perbuatan yang melanggar norma hukum. Pada hakikatnya sikap
sombong, angkuh, kaku, rasa rendah diri orang takut kehilangan hsknya. Untuk mengatasi
keterasingan ini perlu kesadaran yang tinggi’ Orang yang bersikap disadarkan,
karerna apa yang mereka lakukan dianggapnya sudah benar semua.
C. KESEPIAN
1.
Pengertian Kesepian
Kesepian
berasal dari kata sepi, artinya sunyilengang, tidak ramai, tidak
ada orang atau kenderaan, dan sebagainya. Kesepian adalah keadaan sepi atau
hal sepi.
Misalnya:
Setelah
tembakan gencar itu berhenti, tampak Jalanan sepi. Orang takut keluar, bahkan
suara deru mobil pun tak kedengaran.
Setiap orang pernah mengalami
kesepian, karena kesepian merupakan bagian hidup manusia. Lama atau sebentar,
perasaan kesepian ini bergantung kepada mental orang dan kasus penyebabnya.
2.
Sebab-sebab
Terjadinya Kesepian
Bermacam-macam penyewbab terjadinya
kesepian, frustasi pun dapat mengakibatkan kesepian yang bersangkutan tidak mau
diganggu, ia lebih senang dalam keadaan sepi, tidaksuka bergaul,ia kebih senang
hidup sendiri.
Kesepian itu akibat keterasingan dan
keterasingan akibat sikap sombong, angkuh, keras kepala, sehingga dijauhi
kawan-kawan sepergaulan.
Kesepian juga disebabkan karena
takut kehilangan hak nama baik. Nama baik merupakan harapan setiap orang.
Bahkan orang takut matidemi menjaga nama baik. Meskipun sudah berhati-hati
menjaganya mungkin juga oranng masih berbuat salah, sehingga cemar nama
baiknya. Untuk ini, sering kali yang bersangkutan terpaksa hidup mengasingkan
diri, akibatnya kesepian.
D..
KETIDAKPASTIAN
1.Pengertian Ketidakpastian
Ketidakpastian berasal
dari kata tidak pasti artinya tidak menentu (pikirannya), apa yang
dipikirkannya tidak searah. Itu semua adalah akibat pikirannya tidak
dapat konsentrasi.
Ketidakpastian adalah bagian dari
hidup manusia. Ketidakpastian atau ketidaktentuan adalah bagian hidup. Setiap
orang pernah mengalaminya, Bahkan anak kecilpun pernah mengalaminya.
Misalnya:
Ketika anak kecil ditinggalkan
ibunya,ia menangis kebingungan.K ebingungan itu menunjukkan adanya
ketidakpastian, seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
·
Sebab-sebab
Terjadinya Ketidakpastian
Orang yang pikirannya terganggu tidak dapat
berpikir secara teratur, logis ataupun mengambil kesimpulan. Dalam berpikir ia
selalu menerima rangsangan (stimu.lus) dari luar, sehingga jalan pikirannya
menjadi kacau. Kalaupun ia dapat berpiki baik, akan memakan waktu yang cukup
lama dan sukar. Mereka menampakkan tanda-tanda obsesi, fobia/phobia, delusi,
gerakan-gerakan gemetar (buyuten),kehilangan pengertian (aparia), kehilangan
kemampuan untuk menangkap sesuatu (agnesia).
Menurut Siti Meichati dalam bukunya kesehatan mental adda beberapa
sebab orang tidak dapat berpikir dengan pasti.
Sebab-sebab itu ialah sebagai
berikut:
1.Obsesi
Obsesi
adalah gejala neurose jiwa, yaitu adanya pikiran atau perasaan tertentu
yang terus-menerus, biasanya tentang hal-hal yang tak menyenangkan, atau sebab
yang tak diketahui oleh penderita. Misalnya, selalu berpikir ada orang yang
ingin menjatuhkan kita’
Contoh:
a. Seorang
kepala bagian suatu instansi karena kurang mampu bekerja selalu mempunyai
ingatan pihak yang ingin menjatuhkannya.
b.
Seorang
pedagang yang maju pesat, pada suatu saat berpikir olehnya ada kawannya yang
bingin menjatuhkannya. Pikirannya itu tidak hilang, tetapi justru menjadi-jadi.
Apalagi setelah ia merugi.
2. Phobia
Phobia
adalah rasa ketakutan yang tak terkendalikan, tidak normal, kepada suatu hal
atau kejadian, tanpa diketahii sebab-sebabnya.
Contoh:
a.
Orang yang
takut kepada tempat yang tinggi. Secara tidak disengaja, jalan naik tak terasa,
sampai atas, ia takut luar biasa (Acrophobia)
b.
Ada pula
orang yang takut kepada orang banyak yang sedang berkumpul. Pada suatu hari
dirumahnya ada pencuri, iaberteriak sehingga tetangga disekitarnya berlari
datang ke rumahnya. Dalam sekejap telah berkumpul puluhan orang. Herannya justru gemetaran, pucat, ketakutan
luar biasa (Ochlophobia)
Orang yang
dilanda ketakutan itu tidak dapat berfikir, pikirannya tidak pasti tidak
menentu.
3. Delusi
Menunjukkan
pikiran yang tidak beres, karena berdasarkan suatu keyainan palsu. Tidak dapat
memakai akal sehat. Tidak ada dasar kenyataan dan tidak sesuai dengan
pengalaman.
Delusi iniada tiga macam, yakni:
a.
Delusi
persekusi
Menganggap adanya keadaan yang jelek
disekitarnya.
b.
Delusi
keagungan
Menganggap dirinya orang penting dan
besar. Orang seperti itu biasanya gila hormat. Menganggap orang di sekitarnya
sebagai orang-orang yang tidak penting. Akhirnya semua orang menjauhi juga.
Jadi, hampir sama dengan delusi persekusi. Yang jelas akibatnya sama, ialah dijauhi
semua orang.
c.
Delusi
melancholis
Merasa dirinya bersalah, hina dan
berdosa. Hal ini dapat mengakibatkan buyuten atau dikenal dengan nama delirium
tremens, hilangnya kesadaran dan menyebabkan otot-otot tak berkuasa lagi. Ia
kehilangan ingatannya sama sekali. Ia kehilangan ingatannya sama sekali,
mengalami tensi tinggi dan mengingat sesuatu yang belum pernah dialami.
Contoh:
Mang cecep orang kampong pada suatu
hari dipanggil ke pengadilan untuk diminta kesaksiannya. Tetapi karena
takutnya, keringat dingin mengucur, ditanya ini itu tak dapat dijawab, mulutnya
gementar. Akhirnya jaksa tak memperoleh kesaksian apa-apa darinya. Untung saja
ia tak jaut pingsan.
4. Histeria
Ialah neurose jiwa yang disebabkan
oleh tekanan mental, kekecewaan, pengalaman pahit yang menekan, kelemahan
syaraf, tidak mampu menguasai diri, atau sugesti dari sikap orang lain.
Contoh:
a.
Neneng
seorang gadis yang cukup manis. Pada suatu hari ia melihat pacarnya
berjalan-jalan dengan seorang gadis yang belum pernah dikenalnya. Rasa cemburu
berkecamuk dihatinya, dan setibanya di rumah dia berteriak histeris.
b.
Ketika ibu
Bakri sedang melayani anaknya makan, datang orang-orang mengeuk pintu, mengucap
salam. Dijawabnya dan keluarlah ia. Di luar, kagetlah ia melihat orang banyak
mengusung jenazah yang ditutupi kain. Ibu itu langsung bertanya siapa itu ?”
Itu, bukan kang Bakri ! Semua yang ditanya diam. Akhirnya dia berteriak
histeris lalu pingsan. (Film rang-orang laut).
5. Halusianasi
Khayalan yang terjadi tanpa
rangsangan panca indra. Seperti para prewangan (medium) dapat digolongkan pada
pengalaman halusinasi. Dengan Sugesti diri orang dapat juga berhalusinasi.
Halusinasi buatan, misalnya dapat dialami oleh orang mabuk atau pemakaian obat
bius. Kadang-kadang karena halusinasi orang-orang merasa mendapat
tekanan-tekanan terhadap dorongan-dorongan itu menemukan sasarannya. Ini nampak
dalam perbuatan-perbuatan penderita (penderita itu dapat menyadari perbuatannya
itu, tetapi tidak dapat menahan rangsang khayalan sendiri).
Contoh:
a.
Pada suatu
hari saya diajak teman saya yang bernama Nuradi pergi ke rumah orang yang dapat
menyebutkan siapa yang mencuri TV nya. Prewangan itu namanya Mbah Umi. Setelah
Mbah Umi makan bunga mawar, kemudian berbicara dengan suara yang agak berbeda,
entah suara itu dibuat-buat atau benar-benar suara yang timbul sebelumnya.
b.
Atang memang
seorang peminum. Bila sedang marah makin hebat minumnya. Setelah ia mabuk
biasanya ia mengoceh (berbicara tidak menentu).
6. Kompulasi
Kompulasi ialah keragu-ragu yang
sangat mengenai apa yang telah dikerjakan, sehingga ada dorongan yang tak
disadari untuk selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang serupa berulang kali
(Neurose).
Contoh:
a.
Keinginan
untuk mengambil barang orang (mencuri), padahal barang itu tak bermanfaat
baginya, dan andaikata ingin membeli, mampu juga dia (Kleptomania)
b.
Keinginan
minum-minuman keras. Orang itu bukan pmabuk, tetapi bila dilanda pikiran atau
perasaan kecewa keinginan minumnya tak dapat dibendungnya (dispemania).
7. Keadaan
Emosi
Dalam keadaan tertentu seseorang
sangat terpengaruh oleh emosinya. Ia sampai pada keseluruhan pribadinya :
gangguan pada nafsu makan, pusing-pusing, muka merah, nadi cepat, keringat,
tekanan darah tinggi/lemah. Sikapnya dapat apatis atau terlalu gembira dank
arena itu dilepaskan di dalam gerakan-gerakan lari-larian, nyanyian, ketawa
atau berbicara. Sikap ini dapat pula berupa kesedihan menekan, tidak bernafsu,
tidak bersemangat, gelisah, dsb. Jelas kepada kita orang yang demikian itu
tidak mungkin dapat berfikir dengan tenang dan dengan baik.
Untuk mengatasi atau untuk
menghilangkan pikiran yang kacau itu perlu dicari penyebabnya, andaikata telah
diketahui penyebabnya tetap masih sakit, penderita perlu diajak pergi atau
pergi sendiri ke spikolog.
Untuk menghadapi kegelisahan
biasanya dengan menggunakan sikap positif yang bias berlaku umum ini akan
berwujud tindakan-tindakan yang sangat dianjurkan, yaitu meliputi:
1.
Hadapi dan
rencanakan segala kemungkinan problema yang timbul dan sikap yang dibayangkan
akan terjadi, sampai pada yang sejelek mungkin.
2.
Susunlah
persiapan cara-cara menghadapinya beserta pemecahannya.
3.
Mendeteksi
sebanyak mungkin tentang hal-hal yang menyebabkan gelisah termasuk didalamnya;
sebab-sebab dan problemanya.
4.
Hadapilah
dengan tabah kegelisahan beserta sebab-sebab dan problemanya dan bersiap sedia.
5.
Jika mampu
meskipun mungkin tidak dapat secara spontan hilangkanlah sebab-sebab
kegelisahan yang ada.
6.
Ajaklah
orang lain bekerja sama dalam mengatasi kegelisahan ini paling tidak untuk ikut
memikirkan atau memberi perhatian atau memahami keadaan sadar.
BAB XIV & XV
Manusia dan Harapan
A. Pengertian Harapan
Harapan
berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi, sehingga
harapan dapat diartikan sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Yang dapat
disimpulkan harapan itu menyangkut permasalahan masa depan.
Setiap
manusia mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan, berarti manusia itu mati
dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya
berupa pesan – pesan kepada ahli warisnya.
Harapan
tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup dan
kemampuan masing – masing. Misalnya, Budi hanya mampu membeli sepeda, biasanya
tidak mempunyai harapan untuk membeli mobil. Seorang yang mempunyai harapan
yang berlebihan terkadang akan berakibat menjadi tertawaan orang banyak seperti
pribahasa “Si pungguk merindukan bulan”, walaupun tidak ada yang tidak mungkin
didunia ini bila Tuhan berkehandak.
Harapan
harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun
kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar harapan dapat terwujud, maka
diperlukan usaha dengan sungguh – sungguh, berdoa dan pada akhirnya bertawakal
agar harapan itu dapat terwujud.
B. Apa Sebab Manusia Mempunyai
Harapan ?
Menurut
kodratnya manusia itu adalah mahluk sosial. Setiap lahir ke dunia langsung
disambut dalam suatu interaksi hidup, yakni ditengah suatu keluarga atau
sebagai anggota masyarakat. Tidak ada satu manusiapun yang luput dari interaksi
hidup. Ditengah – tengah yang lainnya, seseorang dapat hidup dan berkembang
baik fisik / jasmani maupun mental / spiritualnya. Ada dua hal yang mendorong
orang hidup berinteraksi dengan manusia lain, yakni dorongan kodrat dan dorongan
kebutuhan hidup.
Dorongan
kodrat, ialah sifat, keadaan atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam
diri manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan. Misalnya menangis,
bergembira, berpikir, berjalan, berkata, mempunyai keturunan dan sebagainya. Setiap
manusia mempunyai kemampuan untuk itu semua.
Dorongan
kebutuhan hidup, sudah kodratnya bahwa manusia mempunyai bermacam – macam
kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup itu pada garis besarnya dapat dibedakan atas
kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani.
Menurut
Abraham Maslow sesuai dengan kodratnya harapan manusia atau kebutuhan manuis
itu ialah :
a)
Kelangsungan hidup (survival)
b)
Keamanan (safety)
c)
Hak dan kewajiban mencintai dan dicintai (be loving and love)
d)
Diakui linkungan (status)
e)
Perwujudan cita – cita (self actualization)
C. PENGERTIAN DOA
Menurut
bahasa do'a berasal dari kata "da'a" artinya memanggil. Sedangkan
menurut istilah syara' do'a berarti "Memohon sesuatu yang bermanfaat dan
memohon terbebas atau tercegah dari sesuatu yang memudharatkan.1
Adapun
lafadz do'a yang ada dalam al Qur'an bisa bermakna sebagai berikut:
1. Ibadah,
seperti firman Allah: Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi
manfaat dan tidak memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu
berbuat demikian make, kamu termasuk orang-orang yang zhalim. (Yunus: 106).
2. Perkataan
atau Keluhan. Seperti pada firman Allah: Maka tetaplah demikian keluhan mereka,
sehingga kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak
dapat hidup lagi. (al Anbiya: 15).
3. Panggilan
atau seruan. Allah berfirman: Maka kamu tidak akan sanggup menjadikan
orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli
dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling ke belakang. (ar- Rum: 52)
4. Meminta
pertolongan. Allah berfirman: Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang at
Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad) buatlah satu surat yang
semisal at Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu
orang-orang yang benar. (al Baqarah: 23).
5.
Permohonan. Seperti firman Allah: Dan orang-orang yang berada dalam neraka
berkata kepada penjagapenjaga jahannam: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya
Dia meringankan azab dari kami barang sehari." (al Mukmin: 49).
Macam-Macam
Do’a
Syeikh
Abdurrahman bin Sa'diy berkata: "Setiap perintah di dalam al Qur'an dan
larangan berdo'a kepada selain Allah, meliputi do'a masalah (permintaan) dan
do'a ibadah." 2
Adapun perbedaan
antara kedua macam do'a tersebut adalah:
Do'a masalah
(permintaan) adalah: Meminta untuk diberikan manfaat dan dicegah dari
kemudharatan, atau sesuatu yang sifatnya permintaan. Dan ini dibagi menjadi
tiga:
a)
Permintaan yang ditujukan kepada Allah semata dan ini (termasuk tauhid dan
berpahala. -red. vbaitullah)
b)
Permintaan yang ditujukan kepada selain Allah, padahal dia tidak mampu memenuhi
dan memberikan permintaannya. Seperti meminta kepada kuburan, pohon-pohon besar
atau tempat-tempat keramat. Dan ini termasuk syirik dan dosa besar.
c)
Permintaan yang ditujukan kepada selain Allah pada hal-hal yang bisa dipenuhi
dan bisa dilakukan, seperti meminta prang lain, yang masih hidup untuk
memindahkan atau membawakan barangnya dan ini hukumnya boleh.
Do'a Ibadah
maksudnya Semua bentuk ibadah atau ketaatan yang diberikan kepada Allah balk
lahiriah maupun batiniah, karena pada hakikatnya semua bentuk ibadah misalnya
shalat, puasa, Haji dan sebagainya, tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan
ridha Allah dan dijauhkan dari azab-Nya.
D. Kepercayaan
Kepercayaan
berasal dari kata percaya, artinya mengakui atau meyakini akan kebenaran.
Kepercayaan adalah hal – hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan
akan kebenaran. Ada beberapa kalimat yang dapat kita perhatikan :
Ia tidak
percaya pada diri sendiri.
Saya tidak
percaya ia berbuat seperti itu, berita itu kurang dapat dipercaya.
Bagaimana
juga kita harus percaya kepada pemerintah.
Kita harus
percaya akan nasehat – nasehat yang berasal dari Al-qur’an.
Dengan
contoh berbagai kalimat diatas maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa dasar
kepercayaan itu adalah kebenaran.
E. Berbagai Kepercayaan Dan Usaha
Meningkatkannya
Dasar
kepercayaan adalah kebenaran. Kepercayaan itu dapat dibedakan atas :
• Kepercayaan
pada diri sendiri
Kepercayaan
pada diri sendiri itu ditanamkan setiap pribadi manusia. Percaya pada diri
sendiri pada hakekatnya percaya pada Tuhan Yang Maha Esa Percaya pada diri
sendiri, menganggap dirinya tidak salah, dirinya menang, dirinya mampu mengerjakan
yang diserahkan atau dipercayakan kepadanya.
•
Kepercayaan kepada orang lain
Percaya
kepada orang lain itu dapat berupa percaya kepada saudara, orang tua, guru,
atau siapa saja. Kepercayaan kepada orang lain itu sudah tentu percaya ternadap
kata hatinya, perbuatan yang sesuai dengan kata hati, atau terhadap
kebenarannya. Ada ucapan yang berbunyi orang itu dipercaya karna ucapannya.
Misalnya, orang yang berjanji sesuatu hams dipenuhi, meskipun janji itu tidak
terdengar orang lain, apalagi membuat janji kepada orang lain.
•
Kepercayaan kepada pemerintah
Berdasarkan
pandangan teokratis menurut etika, filsafat tingkah laku karya Prof.Ir,
Poedjawiyatna, negara itu berasal dari Tuhan. Tuhan langsung memerintah dan
memimpin bangsa manusia, atau setidak-tidaknya Tuhanlah pemilik kedaulatan
sejati, Karena semua adalah ciptaan Tuhan. Semua mengemban kewibawaan, terutama
pengemban tertinggi, yaitu raja, langsung dikaruniai kewibawaan oleh Tuhan,
sebab langsung dipilih oleh Tuhan pula (kerajaan)
Pandangan
demokratis mengatakan bahwa kedaulatan adalah dari rakyat, (kewibawaan pun
milik rakyat. Rakyat adalah negara, rakyat itu menjelma pada negara.
Satu-satunya realitas adalah negara). Manusia sebagai seorang (individu) tak
berarti. Orang. mempunyai arti hanya dalam masyarakat, negara. Hanya negara
sebagai keutuhan (totalitas) yang ada, kedaulatan mutlak pada negara, negara
demikian itu disebut negara totaliter. satu-satunya yang mempunyai hak ialah
negara; manusia perorangan tidak mempunyai hak, ia hanya mempunyai kewajiban
(negara diktator)
Jelaslah
bagi kita, baik teori atau pandangan teokratis ataupun demokratis negara atau
pemerintah itu benar, karena Tuhan adalah sumber kebenaran. Karena itu wajarlah
kalau manusia sebagai warga negara percaya kepada negara/pemerintah.
•
Kepercayaan kepada Tuhan
Kepercayaan
kepada Tuhan yang maha kuasa itu amat penting, karena keberadaan manusia itu
bukan dengan sendirinya, tetapi diciptakan oleh Tuhan. Kepercayaan berarti
keyakinan dan pengakuan akan kebenaran. Kepercayaan itu amat penting, karena
merupakan tali kuat yang dapat menghubungkan rasa manusia dengan Tuhannya.
Bagaimana Tuhan dapat menolong umatnya, apabila umat itu tidak mempunyai
kepercayaan kepada Tuhannya, sebab tidak ada tali penghubung yang mengalirkan
daya kekuatannya. Oleh karcna itu jika manusia berusaha agar mendapat
pertolongan dari padanya, manusia harus percaya kepada Tuhan, sebab Tuhanlah
yang selalu menyertai manusia. Kepercayaan atau pengakuan akan adanya zat yang
maha tinggi yang menciptakan alam semesta seisinya merupakan
konsekuensinya
tiap-tiap umat beragama dalam melakukan pemujaan kepada zat tersebut.
Usaha-usaha
Meningkatkan Percaya pada Tuhan
Usaha itu
antara lain:
•
Meningkatkan ketaqwaan kita dengan jalan meningkatkan ibadah.
• Meningkatkan
pengabdian kita kepada masyarakat.
•
Meningkatkan kecintaan kita kepada sesama manusia dengan jalan
suka menolong, dermawan, dan sebagainya.
• mengurangi
nafsu mengumpulkan harta yang berlebihan.
• menekan
perasaan negatif seperti iri, dengki, fitnah, dan sebagainya.
DAFTAR
PUSTAKA
MANUSIA DAN
KEGELISAHAN
Notowidagdo Rohiman H. 2002. Ilmu Budaya Dasar berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada.
Prasetya Tri Joko Drs, dkk (Anggota IKAPI), 1998, Ilmu Budaya Dasar (lengkap). Jakarta:
PT Rineka Cipta.
Djoko Widagdo Drs, dkk, 1999. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
MANUSIA DAN HARAPAN
http://sahat1ka43.blogspot.com/2012/07/manusia-dan-harapan.html
http://harapansatria.blogspot.com/2008/05/pengertian-doa.html
http://rulrul.wordpress.com/2011/03/16/rangkuman-ibd-manusia-dan-harapan/